Tampilkan postingan dengan label rasan rasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rasan rasan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2009

FILOSOFI CONTRENG

Pesta contreng sebentar lagi. Hingar-bingar para kontestan untuk memperoleh contrengan sebanyak-banyaknya menampilkan berbagai tontonan menarik di televisi kita beberapa hari ini.

Saling klaim keberhasilan adalah hal biasa. bahkan kalau perlu menyerang frontal kebijakan atau policy kompetitor. Saking semangatnya kadang terjadi inkonsistensi: suatu saat di panggung kampanye terbuka berteriak menghujat pemberian BLT sebagai merendahkan martabat bangsa, dalam kesempatan lain menampilkan satu seri iklan yang dengan sangat bangga memamerkan bahwa kelompoknyalah yang mengawal program BLT itu agar tepat sasaran

Kita semua tahu, cara baru untuk menunjukkan pilihan kita pada tanggal 9 April y a d adalah mencontreng dan itu sudah disepakati seluruh kekuatan politik yang berlaga kali ini.
Yang mungkin tidak semua kita tahu adalah bahwa ternyata ada cara lain yang tetap sah dilakukan selain mencontreng.

Merubah cara dari mencoblos menjadi mencontreng tampaknya bukan masalah besar, tapi tidak demikian halnya dalam pandangan ibu Dyah Ayu Megawati.

Cara baru itu dianggap berpotensi menggembosi pundi pundi suara partainya dengan asumsi bahwa konstituen yang mayoritas wong cilik akan kesulitan merubah cara coblos yang sudah dilakukan selama tiga puluh tahun dengan mencontreng.

Tapi ketidak setujuan beliau kok baru diungkapkan sekarang ?. Seolah seperti mencederai kesepakatan sebelumnya. Dan menambah kesan waton suloyo ?. Inilah "kesalahan" strategi ibu kita ini. Soal teknik orasi sih, sudah oke. Meski masih jauh ya sedikit miriplah dengan gaya bapak tercinta dulu, namun pemilihan materi yang kurang pas malah menjadi bumerang.

Yang diperoleh malah antipati, kesannya kok meremehkan siapa saja ya KPU ya konstituen nya sendiri yang sepertinya kok bodoh amat hingga tidak bisa mencontreng dengan benar.

Sikap tidak simpatik ini mendapat kritik dari KPU melalui salah seorang anggotanya : ..." Kita ingin merubah dari budaya tusuk, tikam ke budaya tulis yang lebih..."

Masalahnya memang sulit merubah budaya yang sudah mendarahdaging selama puluhan tahun. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar. Tidak ada tikam menikam atau coblos mencoblos (kecuali dibilik suara, bagi yang ngeyel menggunakan cara primitif ini). Apapun hasilnya kelak, kita sudahi cara-cara kekerasan. No more huru hara, no more obong-obongan




Minggu, 29 Maret 2009

SI SULUNG NENGOK IBU dan ZIARAH ke PERISTIRAHATAN AYAH


Bermaksud membuat kejutan si Sulung tidak memberitahu terlebih dulu ketika mau menengok ibu yang sedang menunggui kelahiran dua orang cucu barunya.
Sampai di Semarang ibu sudah di jemput salah seorang adik.

Kepalang tanggung si Sulung melanjutkan perjalanan ke Cepu, ibu sedikit panik, surprised kok tiba tiba si Sulung datang di pagi subuh. tergopoh gopoh nyamperin aku yang belum turun dari subuhan di masjid.

Ibu kelihatan bahagia sekali ngobrol dan cerita ngalor ngidul, si Sulung hanya senyam senyum seperti biasa.

Sorenya si Sulung kuantar kestasiun, mampir sejenak di makam Gendeng yang lokasinya dekat stasiun Cepu.Ziarah dadakan, dihadapan kami teronggok makam alm Ayah, tampak kurang terawat. Rumput dan perdu liar menjalar diatas gundukan makam yang hanya ditandai batu nisan sederhana. Keluarga besar kami memang tidak mengekspresikan penghormatan kepada orang tua dengan cara membangun makam yang mewah. Ini justeru bisa menyalahi aturan agama.

Setelah berdoa sejenak kuantar si Sulung ke stasiun, melanjutkan perjalanan panjangnya ke Semarang - Bandung - Bandar Lampung yang telah di arrange salah seorang putrinya yang kuliah di Semarang, Icha.