Tampilkan postingan dengan label balun saudagaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label balun saudagaran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Januari 2009

TETANGGA ARABKU

Ketika iseng iseng googling dengan kata kunci Balun Saudagaran, kutemukan posting ini...

http://aminuddindahlan.com/?p=26

TRADISI NASI KABULAI

Saya nggak tahu bagaimana asal muasalnya, tetapi tahu2 Bapak mempunyai sahabat dan sudah seperti saudara saja warga baru di Cepu keturunan Arab bernama Yehama Alhadar. Beliau ini pamannya Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo saat ini. Isterinya, kami memanggilnya Ummi. Saat pertama kali tinggal di Cepu, keluarga Yehama tinggal menyewa rumah di daerah Nglajo, sebelum akhirnya pindah ke daerah Balun Saudagaran (tempat saudagar2 Cepu jaman dahulu tinggal, didekat Sungai Bengawan Solo). Beliau pedagang kayu jati, dengar2 memasok untuk pembakaran pengolahan tebu di pabrik Madukismo-Yogyakarta.

Kalo ibuku sedang berkunjung kerumah keluarga Yehama, sementara beliau2 berbincang-bincang, mulutku nggak pernah berhenti-hentinya mencicipi (mencicipi kok terus menerus, ha ha ha) cheese-stick yang saat itu merupakan makanan sangat sangat sangat istimewa nggak ada duanya di Cepu. Makin lama beliau2 ngobrol, makin banyak saja kue cheese-stick yang saya habiskan.

Suatu hari kami sekeluarga mendapatkan hantaran istimewa dari keluarga Yehama tersebut berupa satu baskom besar nasi kabulai. Percaya nggak, karena saking banyaknya minyak samin dalam nasi kabulai tersebut, maka diperaslah nasi kabulai tersebut dan ditampung minyak saminnya, karena kami belum terbiasa makan dengan minyak samin yang melimpah. Selanjutnya, kami nikmati nasi kabulai tersebut bersama-sama. Alhamdulillah.

Nah, dari sinilah asal muasalnya, Ibu yang memang jago masak memasak mengembangkan nasi kabulai khas Ibu Dahlan yang nggak banyak minyak saminnya. Sejak saat itulah, disetiap hari lebaran Iedul Adha maupun Iedul Fitri, pasti Ibuku menyajikan nasi kabulai yang masih kebul-kebul dan alamaak lezatnyaaa untuk hidangan utama setelah Sholat Ied.

Kita bisa lihat disini, bahwa hubungan antar manusia ternyata akan melahirkan dan menumbuhkan idea serta kreatifitas baru. Maka, banyaklah menyerap dan memperhatikan lingkungan sekeliling kita berada, kemudian renungkan dan pikirkan dari situ idea serta kreatifitas apa yang kita bisa lakukan. Saya yakin, akan muncul innovasi baru yang kadang-kadang tidak kita duga sebelumnya. Insha Allah.

Jadi ingat masa balita dulu....
Keluarga Yehama memang akrab dengan warga sekitar. Mereka tinggal di Balun Saudagaran gang I menyewa rumah H syafii, Sedang rumahku tinggal di gang II. Namun Yehama senior rupanya termasuk mudah bergaul dan bisa menyesuaikan diri dg lingkungan. Sering bertandang kerumah dan ngobrol ngalor ngidul dengan alm Bapak. Aku sering nguping pembicaraan beliau berdua.Tentu saja sebagai seorang anak aku tidak mengerti yang menjadi bahan obrolan tapi yang saya ingat betul adalah kebiasaan tuan Yehama menggerak-gerakan kakinya ketika duduk.Sebuah 'gaya' yang sering ku tiru dan mengundang tawa segenap keluarga.

Salah seorang anak keluarga ini Noval Yehama adalah teman sekolah kakak sepupuku. Mereka akrab sekali. Berpuluh tahun kemudian dia pernah napak tilas mencari kakak sepupu. Rupanya mereka kehilangan kontak setamat SMA. Padahal mereka sama sama tinggal di Jakarta. Noval Yehama yang memiliki Hotel tinggal di Jatinegara, sementara kakak sepupuku tinggal di Rawamangun. Nggak tahu apakah mereka sempat bertemu sebelum kakak sepupuku itu menghadap Allah s.w.t.

Satu lagi dari keluarga ini yang kuingat adalah Alwi Yehama. yang menjadi wartawan olah raga dan menggunakan nama pena John Halmahera.




Reblog this post [with Zemanta]