Jumat, 06 Februari 2009
Alhamdulillah Banjir Kali Ini Tidak Masuk Rumah
Sabtu, 31 Januari 2009
BANJIR DI CEPU.... (PART ONE)
Mudah-mudahan tidak sebesar banjir akhir 2007.....
Senin, 26 Januari 2009
ONENG ASBUN.... YO BEN !
Oneng mungkin terlalu sibuk ngurusin salonnya, atau ribut dengan bajuri hingga tidak sempat berpikir jernih.
Korupsi sudah jelas haram dalam Al Qur'an juga ada katanya. Jadi tidak perlu dibuatkan fatwa dong?
Fatwa haram rokok melanggar HAM, biar yang pinter aja yang menjawab . Untungnya yang bicara Oneng, lha wong oneng ...
Sabtu, 24 Januari 2009
TETANGGA ARABKU
http://aminuddindahlan.com/?p=26
TRADISI NASI KABULAI
Saya nggak tahu bagaimana asal muasalnya, tetapi tahu2 Bapak mempunyai sahabat dan sudah seperti saudara saja warga baru di Cepu keturunan Arab bernama Yehama Alhadar. Beliau ini pamannya Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo saat ini. Isterinya, kami memanggilnya Ummi. Saat pertama kali tinggal di Cepu, keluarga Yehama tinggal menyewa rumah di daerah Nglajo, sebelum akhirnya pindah ke daerah Balun Saudagaran (tempat saudagar2 Cepu jaman dahulu tinggal, didekat Sungai Bengawan Solo). Beliau pedagang kayu jati, dengar2 memasok untuk pembakaran pengolahan tebu di pabrik Madukismo-Yogyakarta.
Kalo ibuku sedang berkunjung kerumah keluarga Yehama, sementara beliau2 berbincang-bincang, mulutku nggak pernah berhenti-hentinya mencicipi (mencicipi kok terus menerus, ha ha ha) cheese-stick yang saat itu merupakan makanan sangat sangat sangat istimewa nggak ada duanya di Cepu. Makin lama beliau2 ngobrol, makin banyak saja kue cheese-stick yang saya habiskan.
Suatu hari kami sekeluarga mendapatkan hantaran istimewa dari keluarga Yehama tersebut berupa satu baskom besar nasi kabulai. Percaya nggak, karena saking banyaknya minyak samin dalam nasi kabulai tersebut, maka diperaslah nasi kabulai tersebut dan ditampung minyak saminnya, karena kami belum terbiasa makan dengan minyak samin yang melimpah. Selanjutnya, kami nikmati nasi kabulai tersebut bersama-sama. Alhamdulillah.
Nah, dari sinilah asal muasalnya, Ibu yang memang jago masak memasak mengembangkan nasi kabulai khas Ibu Dahlan yang nggak banyak minyak saminnya. Sejak saat itulah, disetiap hari lebaran Iedul Adha maupun Iedul Fitri, pasti Ibuku menyajikan nasi kabulai yang masih kebul-kebul dan alamaak lezatnyaaa untuk hidangan utama setelah Sholat Ied.
Kita bisa lihat disini, bahwa hubungan antar manusia ternyata akan melahirkan dan menumbuhkan idea serta kreatifitas baru. Maka, banyaklah menyerap dan memperhatikan lingkungan sekeliling kita berada, kemudian renungkan dan pikirkan dari situ idea serta kreatifitas apa yang kita bisa lakukan. Saya yakin, akan muncul innovasi baru yang kadang-kadang tidak kita duga sebelumnya. Insha Allah.Jadi ingat masa balita dulu....
Keluarga Yehama memang akrab dengan warga sekitar. Mereka tinggal di Balun Saudagaran gang I menyewa rumah H syafii, Sedang rumahku tinggal di gang II. Namun Yehama senior rupanya termasuk mudah bergaul dan bisa menyesuaikan diri dg lingkungan. Sering bertandang kerumah dan ngobrol ngalor ngidul dengan alm Bapak. Aku sering nguping pembicaraan beliau berdua.Tentu saja sebagai seorang anak aku tidak mengerti yang menjadi bahan obrolan tapi yang saya ingat betul adalah kebiasaan tuan Yehama menggerak-gerakan kakinya ketika duduk.Sebuah 'gaya' yang sering ku tiru dan mengundang tawa segenap keluarga.
Salah seorang anak keluarga ini Noval Yehama adalah teman sekolah kakak sepupuku. Mereka akrab sekali. Berpuluh tahun kemudian dia pernah napak tilas mencari kakak sepupu. Rupanya mereka kehilangan kontak setamat SMA. Padahal mereka sama sama tinggal di Jakarta. Noval Yehama yang memiliki Hotel tinggal di Jatinegara, sementara kakak sepupuku tinggal di Rawamangun. Nggak tahu apakah mereka sempat bertemu sebelum kakak sepupuku itu menghadap Allah s.w.t.
Satu lagi dari keluarga ini yang kuingat adalah Alwi Yehama. yang menjadi wartawan olah raga dan menggunakan nama pena John Halmahera.
Selasa, 20 Januari 2009
KAMPANYE SESAT
http://warnaislam.com/rubrik/jurnalistik/2009/1/20/46380/Komunikasi_Manipulatif_Iklan_Kampanye.htm
Komunikasi Manipulatif Iklan Kampanye
Selasa, 20 Januari 2009 12:53
APA prestasi pemerintahan pemerintahan SBY? Simaklah iklan kampanye Partai Demokrat. Pemerintahan SBY, kata iklan itu, berhasil menurunkan harga BBM, hingga tiga kali! Pertama kali dalam sejarah Indonesia lho! Lainnya, gencar memberantas korupsi. "Katakan TIDAK untuk korupsi!"
Bagi rakyat yang “cermat”, iklan tersebut “lucu”, menggelikan. Pasalnya, rakyat tidak akan lupa, pemerintahan SBY pulalah yang menaikkan harga BBM, padahal sejumlah pakar ekonomi menyarankan menaikkan harga BBM waktu itu bukan satu-satunya solusi menyelamatkan APBN. Tapi pemerintah tetap ngotot, tidak mau mendengar. Tidak lama setelah BBM dinaikkan, harga minyak mentah dunia turun drastis, dan harga BBM pun kembali diturunkan. Lucunya, penurunan itu diklaim sebagai prestasi. Lucu ya? Tertawa dong…!
Apalagi setelah harga BBM diturunkan, harga-harga yang telanjur naik, susah banget turunnya! Apakah itu prestasi?
Soal korupsi, pengamat komunikasi politik, Effendy Gazali, bahkan mengatakan iklan antikorupsi Partai Demokrat lucu dan tidak memiliki makna apa-apa. “Saya bisa katakana ini iklan terlucu yang pernah saya lihat,” kata Effendy kepada okezone (9/12).
Iklan itu, “Katakan TIDAK pada korupsi. Partai Demokrat bersama SBY terus melawan korupsi tanpa pandang bulu”, sangat membius, memunculkan kesan seolah-olah Partai Demokrat yang telah melakukan pemberantasan korupsi di Indonesia. Tapi rakyat tidak akan lupa, anggota DPR dari Fraksi Demokrat, Sarjan Tahir, menerima suap Rp 5 milyar untuk menyetujui usulan pelepasan kawasan hutan lindung Pantai Air Telang. Bahkan, anggota DPR lain dari Demokrat, Ahmad Fauzi, melontarkan gagasan membubarkan KPK! “Kalau perlu dibubarkan saja,” katanya kala melontarkan wacana untuk merevisi UU No 30 Tahun 2002 tentang KPK –Partai Demokrat memberi sanksi dengan merotasi Achmad Fauzie dari Komisi III ke Komisi VII yang membidangi masalah keagamaan.
Bagi pakar komunikasi (politik), iklan kampanye pemilu semacam itu bukan hal aneh. Biasa terjadi. Bahkan, bagi rakyat kecil, hal biasa memang politisi berbohong!
Dalam kampanye, pesan-pesan komunikasi politik banyak berisi jargon kata untuk “menciptakan citra semu” parpol atau kandidat. Maka, hingga April 2009 dan jelang Pilpres, kita akan disuguhi berbagai jenis “komunikasi menyesatkan” dari kalangan parpol dan kandidat.
Dalam lileratur komunikasi, setidaknya ada tiga jenis komunikasi menyesatkan atau berbahaya. Pertama, komunikasi untuk memanipulasi –manipulasi data, fakta, yang buruk dibilang baik, yang jelek ditutupi, yang baik diekspos.
Kedua, komunikasi untuk membohongi –berbohong, melebih-lebihkan,
mempermainkan, dan penipuan secara umum. Ketiga, komunikasi dengan pesan ganda –mengatakan satu hal dan melakukan hal lain serta menjanjikan
sesuatu yang tidak terpenuhi.
Citra politik jadi buruk karena keburukan kinerja politisi. Berdusta menjadi hal biasa. Kata orang Sunda, politik itu “pulitik” = nipu jalma leutik (menipu rakyat kecil). Politisi Muslim pun mungkin tidak merasa berdosa karena sistem politik yang berlaku bukan “politik syariah”. Tidak ada konsep dosa dalam sistem politik sekuler. Masya Allah… (Sumber: WarnaIslam)
KONTROVERSI HERMENEUTIKA
Bisakah digunakan untuk membedah teks-teks Al Quran?.
Ketika iseng lihat beberapa folder si bungsu yang "numpang kost" di hardisk ku ada email dari Nasr Hamid abu Zaid (penulis buku Hermeneutika Inklusif ):
Dear Burhan,
Hermeneutics is not an ideology to be defended; it represents the
basic methodological questions related to the issues of
interpretation of Scriptures, literature, art, human sciences such
as socilology, anthropology and psychology. Accordingly, there are
many schools of hermeneutics. In the history of Qur'anic
interpretation, such questions has been dealt with implicitly in
almost every exegetical work since Tabari till Sayd Qutb. It was
explicitly discussed in the Shi`i and Sufi works of Qur'anic
exegesis. It is, therefore, part of Islamic tradition not a mere
Western invention. Muslim scholars have to contribute and
participate in the debate. Ignoring hermenutics is in fact betrayal
of the richness of Islamic tradition.
>
> Nasr
Silakan diskusi yang santun, atau ada yang mau review bukunya Nasr Hamid abu Zaid ?
Monggo
Rabu, 17 September 2008
AGUS "BODONG" CONDRO
Flashback ke tahun 80 an, si Agus yang ngaku nya dari
Entah karena apa tiba-tiba saja kami sudah bersitegang sementara teman-teman kost mayoritas mendukungku. Maklumlah teman teman rada kurang respek sama si betawi ini karena “kecerdikan” nya.
Dulu kami menyewa satu rumah dan hire seorang Bibi untuk memasak (ceritanya mo ngirit nih) Nah si Agus ini ga mau gabung maunya, dia bayar sewa kamar aja. Tapi tiap pagi dia numpang bikin kopi dan kadang-kadang menguras termos kami. Belum lagi kalau tengah malam kami mengadakan “Nasgor Party”, sering ga tega menjadikannya penonton. Alhasil kamipun lalu menyisihkan bebrapa sendok jatah kami masing-masing untuk dia.
Mungkin capek diledeki teman-teman, pada suatu hari emosinya meletup. Saya yang paling vokal jadi sasaran .Ditantangin berantem. Untunglah belum sempat adu fisik. Semalaman aku ga bisa tidur .Ngapain sih, ?ga penting banget dech kaya gali aja (bahasa solo untuk preman).
Tapi alhamdulillah keesokan harinya si Agus mendatangi kami yang sedang kongkow nonton tv. Dia menyalamiku dan minta maaf. Luar biasa! Sambil merangkulnya aku bilang pada teman-teman : “ Dia lebih hebat dibanding kita semua !!”.
Nah si Agus yang kedua ini kita semua sudah tahu…orangnya supel mudah bergaul. Pertemuan kami yang pertama aku masih ingat betul. Waktu itu kuliah di kampus Pabelan. Di ruang aula itu Agus yang duduk disebelahku mengulurkan tangannya ngajak kenalan : “ Kenalkan aku Agus condro”.
Selanjutnya tidak ada yang istimewa, sejatinya kami memang tidak begitu akrab. Dia aktifis dan sempat duduk di kepengurusan DPC sebuah ormas kemahasiswaan, sedangkan aku mahasiswa biasa saja yang bahkan teman seangkatanpun banyak yang ga kenal.
Ujug ujug saja dia sudah bertengger di puncak kariir politiknya sebagai anggota dewan. Wah, bodong dadi anggota dewan, gumamku sambil nonton siaran langsung tv yang meliput pemilihan presiden. Terlihat dengan bodi yang sudah mulai gendut dengan setelan jas mahal teman seangkatanku itu berjalan menuju meja pemungutan suara. Sayang jagonya (atau babon) waktu itu (Megawati) kalah telak dalam pemungutan suara ( konon sampai nangis tersedu-sedu, tapi itu ga penting ya..).
Oya, soal nickname ‘bodong’ itu tentu saja kami teman-temannya tidak pernah men check dan recheck. Betul apa nggak ya wallahu a’lam. Tapi nampaknya dia nyaman saja dengan panggilan itu. Alhasil jadilah panggilan “sayang” kami untuknya.
Kini si “bodong” ini sedang jadi sorotan. Kenekatannya untuk wadul ke KPK merepotkan banyak orang termasuk (tentu saja) kolega dan petinggi partai tempatnya bernaung.
Kalau aku sih, melihatnya dari sisi positif aja. Bahwa ada orang menyadari kesalahannya lalu bertobat, itulah memang yang seharusnya. Kita tidak berhak menjudge orang lain. Kita hanya bisa melihat yang lahir, permukaan saja. Urusan hati, niat, itu hanya Allah dan ybs saja yang tahu. Lagian aku juga percaya ama testemoni Prof. Mahfudz MD, bahwa koleganya itu sudah sekian lama gelisah dan menyadari kesalahannya dan terus mencari saat yang tepat untuk menggembalikan gratifikasi yang panas tersebut. “Bagaimana saya bisa menyuruh orang jadi baik kalau tidak memulai dari diri sendiri. Prof.” demikian konon bunyi SMS si “Bodong” pada pakar hukum tsb.
Suatu keberanian yang luar biasa, untuk menjadi baik dan mengajak orang lain jadi baik dia rela kehilangan pencapaian duniawinya selama ini. Lebih luar biasa lagi kalau kita tahu bahwa si “bodong” ini dulunya adalah seorang “penakut”., jatuh cinta pada teman sekampus aja tidak berani ngomong.
Keep fighting bos!!.