Jumat, 25 September 2009
Selasa, 08 September 2009
Puter, Burung Pin Pin Bo
Burung puter atau kalau orang Cepu dan sekitarnya menyebut burung brenggolo, termasuk burung yang punya nasib tidak begitu bagus. Sebagai burung peliharaan berharga murah meriah, keberadaannya di rumah penghobi sekedar pelengkap dan diletakkan di sudut pekarangan dalam sangkar yang ala kadarnya..
Suaranya sebenarnya cukup merdu (apalagi yg jenis puter pelung : mengalun panjang mengundang rasa iba ) dan konstan, tiap beberapa waktu bisa dijadikan “jam”. Bagi yang tidak terlalu “kebluk” alunan suara burung puter ibarat alarm membangunkan kita dengan lembut dan mengingatkan untuk sholat malam , atau siap siap berangkat ke masjid ketika dia menyanyi di ambang fajar.
Kalau ditranskripsi mungkin bunyinya begini : kuk geerrruuuuk , kuk gerruuuuk, nah teman teman yang iseng sering memplesetkannya dengan : empuk jerruuuuu, karenanya disarankan jangan menaruh sangkar burung puter dekat kamar tidur kita kalau tidak mau “tersindir” sehingga kehilangan konsentrasi karena melaksanakan “tugas suci” sambil senyam senyum .
Dikalangan peternak perkutut burung puter juga punya nasib yang cukup nelangsa. Sifatnya yang pin pin bo ( pintar pintar bodoh ) dimanfaatkan peternak untuk meningkatkan produksi .Caranya begini, pasangan puter yg sedang bertelur direkayasa untuk terus dalam posisi mengeram baik dengan cara yang sadis dg merendam telornya dalam air mendidih, atau dengan cara yg lebih halus misalnya mengganti teornya dg telor boongan.
Nah, pasangan yang sedang berbahagia yang tidak sadar telah dieksploitasi ini sewaktu-waktu bisa dititipi untuk mengasuk piyek perkutut yg berumur
Posted by Abu Hanifah at 01:30 6 comments
Minggu, 24 Mei 2009
Lan Jalan ke Solo,
Hari minggu jalan- jalan ke Solo, miss vega yang kupacu kenceng mulai nggeter ketika spedometer menunjukkan angka 90 km/h. Jadi iri ama yg pakai motor cc agak besar, apa harus ganti vixion ya?
Sampai solo jam 8 pagi sarapan nasi pecel murah meriah di perempatan RM Said. Antrinya itu lho.. Abis sarapan dunia terasa lebih terang ngeliatin semut tampak kecil2 (podho ae nda..)
Acara berikutnya mampir di Balekambang nonton lomba derkuku. Pengin tahu aja perkembangan tren suara burung bagus, eh ada juga burung yang tidak lebih bagus dari burungku dilombakan
Sebelum pulang mampir di warung bebek goreng nya Pak H Slamet Kartosuro. Meski banyak cabang rasanya kurang mak nyuss kalau nggak makan di "kantor pusat"nya:Jam 4 sore nyampai Cepu, badan serasa habis digebukin orang sak erte. Kulirik spedometer miss vega, ada tambahan 300 km.
Posted by Abu Hanifah at 05:42 3 comments
Labels: Jalan jalan
Selasa, 12 Mei 2009
Anak Ababil Turun Sarang
Sepasang anak Ababil yang menetas tepat pada hari Kartini 21 April yang lalu kemarin turun dari sarangnya, belajar terbang.
Semoga saja kedua piyek ini mewarisi suara bapaknya sukur sukur jalan suaranya bis mewarisi ibunya yang jalan dobel. Amin.
Rekaman suara Ababil bisa di dengar di youtube yang saya embed di blok ini juga. enjoy it !
Posted by Abu Hanifah at 23:13 2 comments
Labels: bird farm, perkutut, turtle dove
Selasa, 05 Mei 2009
PERKUTUT PUTIH
Konon bagi yang percaya perkutut berbulu putih mulus mempunyai 'angsar' tertentu, dan karena (dahulu) kelangkaannya seekor perkutut putih jadi mahal harganya.
Kini dengan teknik breeding yang semakin maju para peternak perkutut sudah menemukan cara dan teknik menghasilkan perkutut berwarna putih, kalau ada orang yang menawarkan perkutut putih dengan harga mahal dengan alasan burung tersebut hasil tangkapan dari alam kemungkinan besar dia bohong.
Perkutut putih sebenarnya adalah hewan albino, mata merah (komunitas kungmania menyebutnya dg istilah tembus) dan bulu putih adalah akibat dari hewan itu tidak memiliki pigmen.
Karena lahir sebagai hewan 'cacat' perkutut putih memerlukan perawatan yang lebih jlimet dibanding perkutut normal, inilah barangkali alasan yang masuk akal kenapa harganya relatif lebih mahal .
Posted by Abu Hanifah at 21:16 2 comments
Labels: perkutut
Minggu, 19 April 2009
Ababil Mulai Mengeram
Setelah macet total total gara-gara stress saat musibah banjir besar 20007 lalu, kini ababil perkutut jagoanku mulai mengeram. dengan pasangan barunya yang bergelang Jatisari (Blora)
mudah-mudahan menghasilkan piyek yang punya prospek bagus.
Untuk melayani pasar yang lagi trend menyukai perkutut hitam dan perkutut putih aku juga mengandangkan beberapa pasang. Bahkan sedikit nekat aku melakukan "jebol kandang" dari farm milik teman.
Mudah-mudahan semuanya lancar.. ada yang mau indent ???
Posted by Abu Hanifah at 01:17 4 comments
Labels: perkutut
Rabu, 01 April 2009
FILOSOFI CONTRENG
Saling klaim keberhasilan adalah hal biasa. bahkan kalau perlu menyerang frontal kebijakan atau policy kompetitor. Saking semangatnya kadang terjadi inkonsistensi: suatu saat di panggung kampanye terbuka berteriak menghujat pemberian BLT sebagai merendahkan martabat bangsa, dalam kesempatan lain menampilkan satu seri iklan yang dengan sangat bangga memamerkan bahwa kelompoknyalah yang mengawal program BLT itu agar tepat sasaran
Kita semua tahu, cara baru untuk menunjukkan pilihan kita pada tanggal 9 April y a d adalah mencontreng dan itu sudah disepakati seluruh kekuatan politik yang berlaga kali ini.
Yang mungkin tidak semua kita tahu adalah bahwa ternyata ada cara lain yang tetap sah dilakukan selain mencontreng.
Merubah cara dari mencoblos menjadi mencontreng tampaknya bukan masalah besar, tapi tidak demikian halnya dalam pandangan ibu Dyah Ayu Megawati.
Cara baru itu dianggap berpotensi menggembosi pundi pundi suara partainya dengan asumsi bahwa konstituen yang mayoritas wong cilik akan kesulitan merubah cara coblos yang sudah dilakukan selama tiga puluh tahun dengan mencontreng.
Tapi ketidak setujuan beliau kok baru diungkapkan sekarang ?. Seolah seperti mencederai kesepakatan sebelumnya. Dan menambah kesan waton suloyo ?. Inilah "kesalahan" strategi ibu kita ini. Soal teknik orasi sih, sudah oke. Meski masih jauh ya sedikit miriplah dengan gaya bapak tercinta dulu, namun pemilihan materi yang kurang pas malah menjadi bumerang.
Yang diperoleh malah antipati, kesannya kok meremehkan siapa saja ya KPU ya konstituen nya sendiri yang sepertinya kok bodoh amat hingga tidak bisa mencontreng dengan benar.
Sikap tidak simpatik ini mendapat kritik dari KPU melalui salah seorang anggotanya : ..." Kita ingin merubah dari budaya tusuk, tikam ke budaya tulis yang lebih..."
Posted by Abu Hanifah at 15:44 3 comments
Labels: contreng, intermeso, rasan rasan


