Seekor kambing yang kupelihara lima hari lalu hari ini melahirkan. Dua ekor cempe lucu dengan kepala mancung dan telinga panjang tipikal kambing yg punya darah PE
Ya anggap saja ini merupakan bonus, karena sebenarnya indukan itu rencananya mau di IB (kawin suntik) dengan semen kambing boer.
Burung puter atau kalau orang Cepu dan sekitarnya menyebutburung brenggolo, termasuk burungyang punya nasib tidak begitu bagus. Sebagai burung peliharaan berharga murah meriah,keberadaannya di rumah penghobi sekedar pelengkap dan diletakkan di sudut pekarangan dalam sangkar yang ala kadarnya..
Suaranyasebenarnya cukup merdu (apalagi yg jenis puter pelung : mengalun panjang mengundang rasa iba ) dan konstan,tiap beberapa waktu bisa dijadikan “jam”.Bagi yang tidak terlalu “kebluk” alunan suara burung puteribarat alarm membangunkan kita dengan lembut dan mengingatkan untuk sholat malam , atau siap siapberangkat ke masjid ketika dia menyanyi di ambang fajar.
Kalau ditranskripsi mungkin bunyinya begini : kuk geerrruuuuk , kuk gerruuuuk, nah teman teman yang iseng sering memplesetkannya dengan : empuk jerruuuuu, karenanya disarankan jangan menaruh sangkar burung puter dekat kamar tidur kitakalau tidak mau “tersindir” sehingga kehilangan konsentrasi karena melaksanakan “tugas suci” sambil senyam senyum .
Dikalangan peternak perkutut burung puter juga punya nasib yang cukup nelangsa. Sifatnya yang pin pin bo ( pintar pintar bodoh ) dimanfaatkan peternak untukmeningkatkan produksi .Caranya begini, pasangan puter yg sedang bertelur direkayasa untuk terus dalam posisi mengeram baik dengan cara yang sadis dg merendam telornya dalam air mendidih, atau dengan cara yg lebih halus misalnya mengganti teornya dg telor boongan.
Nah, pasangan yang sedang berbahagiayang tidak sadar telah dieksploitasi ini sewaktu-waktu bisa dititipiuntuk mengasuk piyek perkutut yg berumur lima hari keatas. Istilahnya dikalangan penghobi dijadikan baby sitter.Sepasang indukan puter mampu mengasuh sampai tiga pasang (berarti enam ekor) piyek perkutut. Imbal baliknyasi puter ini selama meloloh piyek perkutut memdapat makanan yang lebih baik karena harus meloloh piyek perkutut yang siapa tahu dikelak kemudian hari bisa mencorong bersuara bagus dan pantas dikerek diarena lomba..
Hari minggu jalan- jalan ke Solo, miss vega yang kupacu kenceng mulai nggeter ketika spedometer menunjukkan angka 90 km/h. Jadi iri ama yg pakai motor cc agak besar, apa harus ganti vixion ya?
Sampai solo jam 8 pagi sarapan nasi pecel murah meriah di perempatan RM Said. Antrinya itu lho.. Abis sarapan dunia terasa lebih terang ngeliatin semut tampak kecil2 (podho ae nda..)
Acara berikutnya mampir di Balekambang nonton lomba derkuku. Pengin tahu aja perkembangan tren suara burung bagus, eh ada juga burung yang tidak lebih bagus dari burungku dilombakan
Konon bagi yang percaya perkutut berbulu putih mulus mempunyai 'angsar' tertentu, dan karena (dahulu) kelangkaannya seekor perkutut putih jadi mahal harganya.
Kini dengan teknik breeding yang semakin maju para peternak perkutut sudah menemukan cara dan teknik menghasilkan perkutut berwarna putih, kalau ada orang yang menawarkan perkutut putih dengan harga mahal dengan alasan burung tersebut hasil tangkapan dari alam kemungkinan besar dia bohong.
Perkutut putih sebenarnya adalah hewan albino, mata merah (komunitas kungmania menyebutnya dg istilah tembus) dan bulu putih adalah akibat dari hewan itu tidak memiliki pigmen.
Karena lahir sebagai hewan 'cacat' perkutut putih memerlukan perawatan yang lebih jlimet dibanding perkutut normal, inilah barangkali alasan yang masuk akal kenapa harganya relatif lebih mahal .
Setelah macet total total gara-gara stress saat musibah banjir besar 20007 lalu, kini ababil perkutut jagoanku mulai mengeram. dengan pasangan barunya yang bergelang Jatisari (Blora) mudah-mudahan menghasilkan piyek yang punya prospek bagus.
Untuk melayani pasar yang lagi trend menyukai perkutut hitam dan perkutut putih aku juga mengandangkan beberapa pasang. Bahkan sedikit nekat aku melakukan "jebol kandang" dari farm milik teman.
Mudah-mudahan semuanya lancar.. ada yang mau indent ???
Pesta contreng sebentar lagi. Hingar-bingar para kontestan untuk memperoleh contrengan sebanyak-banyaknya menampilkan berbagai tontonan menarik di televisi kita beberapa hari ini.
Saling klaim keberhasilan adalah hal biasa. bahkan kalau perlu menyerang frontal kebijakan atau policy kompetitor. Saking semangatnya kadang terjadi inkonsistensi: suatu saat di panggung kampanye terbuka berteriak menghujat pemberian BLT sebagai merendahkan martabat bangsa, dalam kesempatan lain menampilkan satu seri iklan yang dengan sangat bangga memamerkan bahwa kelompoknyalah yang mengawal program BLT itu agar tepat sasaran
Kita semua tahu, cara baru untuk menunjukkan pilihan kita pada tanggal 9 April y a d adalah mencontreng dan itu sudah disepakati seluruh kekuatan politik yang berlaga kali ini. Yang mungkin tidak semua kita tahu adalah bahwa ternyata ada cara lain yang tetap sah dilakukan selain mencontreng.
Merubah cara dari mencoblos menjadi mencontreng tampaknya bukan masalah besar, tapi tidak demikian halnya dalam pandangan ibu Dyah Ayu Megawati.
Cara baru itu dianggap berpotensi menggembosi pundi pundi suara partainya dengan asumsi bahwa konstituen yang mayoritas wong cilik akan kesulitan merubah cara coblos yang sudah dilakukan selama tiga puluh tahun dengan mencontreng.
Tapi ketidak setujuan beliau kok baru diungkapkan sekarang ?. Seolah seperti mencederai kesepakatan sebelumnya. Dan menambah kesan waton suloyo ?. Inilah "kesalahan" strategi ibu kita ini. Soal teknik orasi sih, sudah oke. Meski masih jauh ya sedikit miriplah dengan gaya bapak tercinta dulu, namun pemilihan materi yang kurang pas malah menjadi bumerang.
Yang diperoleh malah antipati, kesannya kok meremehkan siapa saja ya KPU ya konstituen nya sendiri yang sepertinya kok bodoh amat hingga tidak bisa mencontreng dengan benar.
Sikap tidak simpatik ini mendapat kritik dari KPU melalui salah seorang anggotanya : ..." Kita ingin merubah dari budaya tusuk, tikam ke budaya tulis yang lebih..."
Masalahnya memang sulit merubah budaya yang sudah mendarahdaging selama puluhan tahun. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar. Tidak ada tikam menikam atau coblos mencoblos (kecuali dibilik suara, bagi yang ngeyel menggunakan cara primitif ini). Apapun hasilnya kelak, kita sudahi cara-cara kekerasan. No more huru hara, no more obong-obongan